Kami pernah menjadi dua rindu yang dipisah jarak dan waktu, berjalan di jalan berbeda sambil menanti waktu Tuhan menuntun. Kita belajar sabar dari setiap luka, menumbuhkan cinta di tanah yang tandus, menyiramnya dengan doa dan janji yang tak pernah lepas. Ada hari ketika langkah kami hampir goyah, tapi nama kita selalu kembali jadi rumah. Kini, setelah musim panjang itu berlalu, kami berdiri di pelaminan, menggenggam mimpi yang dulu hanya berani kami bisikkan ke langit. Sebuah perjuangan panjang yang akhirnya tercapai—bahwa cinta yang dijaga, pada akhirnya akan menemukan jalannya pulang.