Ribuan kilometer dari tanah kelahiran, langkahku tertuju pada satu titik: karier dan masa depan. Bagiku, pernikahan nampak seperti labirinrumit yang seringkali berujung buntu bagi mereka di sekitarku. Aku memilih diam, menyibukkan diri di antara megahnya sejarah Turki, sembari menyimpan tanya: apakah cinta memang sesulit itu untuk ditemukan?
Melihatku yang masih bergeming, doa Ibu dan Ayah bergerak lebih dulu. Mereka mencarikan sosok yang mampu memenuhi tujuh pintaku. Siapa sangka, jawaban dari sujud panjang mereka bukanlah seseorang dari negeri seberang, melainkan ia yang hanya berjarak seratus meter dari pagar rumahku.
Sempat terbersit ragu, namun nuraniku berbisik: "Laki-laki mungkin bisa terpikat oleh polesan sikap, namun seorang Ibu selalu punya mata hati untuk mengenali mana ketulusan yang sejati."
Melepaskan penat perantauan, aku memutuskan untuk pulang. Bukan hanya untuk kembali ke rumah, tapi untuk membuktikan apakah ia memang dermaga yang kucari. Ternyata, dalam jarak yang begitu dekat, kutemukan ketenangan yang selama ini kucari sejauh benua.