Kita adalah dua pejalan yang berangkat dari arah berbeda, membawa ransel penuh harap dan sesekali diketuk badai. Ingatkah saat jalanan begitu terjal? Ketika isi dompet tak seberapa, namun isi kepala kita penuh dengan rencana-rencana besar yang sering kali ditertawakan keadaan. Kita pernah menangis di sudut yang sama, membagi segelas kopi untuk berdua, dan saling menggenggam erat saat dunia seolah meminta kita untuk menyerah. Namun, di setiap air mata yang jatuh, ada sabar yang tumbuh. Di setiap tawa yang renyah setelah badai, ada yakin yang semakin kokoh. Hari ini, perjalanan itu menemukan muaranya. Bukan lagi tentang "kamu" atau "aku" yang bertarung melawan dunia, melainkan tentang "kita" yang melangkah menuju altar yang sama. Terima kasih telah bertahan di hari-hari paling kelabu, hingga akhirnya hari ini kita merayakan warna paling indah.